Seni, Sulaman

Mengenal Sulaman Khas Pariaman Kepala Peniti

Mengenal Sulaman Khas Pariaman Kepala Peniti – Di Padang Pariaman, sebagian masyarakat sedang memiliki kemampuan menyulam dengan metode sulaman kepala jarum biku khas Pariaman. Kemampuan itu mengalami dari peninggalan turun temurun. Bermacam buatan yang dinilai dengan jutaan itu terbuat dari tangan- tangan cermat Bunda Rumah Tangga( IRT).

Mengenal Sulaman Khas Pariaman Kepala Peniti

 Baca Juga : Pelajari Cara Menyulam Tulisan Tangan

superziper – Tidak bingung bila satu buatan sulaman dihargai dengan harga jutaan Rupiah, alasannya cara pembuatan sulaman itu menyantap durasi penanganan sangat kilat satu bulan serta metode pengerjaannya terhitung susah.

Salah satu IRT yang ditemui di area itu bernama Eka( 38) berterus terang sudah menjalani profesi menyulam sepanjang 20 tahun. Beliau mengutarakan, pembuatan sulaman yang wajib dicoba dengan cara apik serta penuh ketabahan.

” Iya, jika ini telah 20 tahun aku jalani, awal mulanya terasa susah, karena menyulam semacam ini memerlukan kecakapan serta metode tertentu,” tutur Eka dikala menyulam di teras rumahnya.

Disebutkannya, sulaman yang beliau kerjakan ialah metode sulaman khas Pariaman.” Metode sulaman ini diwariskan dengan cara turun temurun dari nenek moyang. Aku dahulu sewaktu anak muda menekuni dari nenek,” sebutnya.

Eka pula tuturkan, metode sulaman kepala jarum biku banyak bawa energi raih untuk orang lain, bagus akademisi ataupun masyarakat luar wilayah itu banyak berlatih ke daerahnya.” Mereka terpikat dengan wujud sulaman jarum biku. Corak sulaman yang istimewa serta menawan jadi energi raih tertentu,” jelasnya.

Dikala itu nampak, Eka menyulam kepala jarum biku yang diaplikasikannya di atas selendang.

” Ini metode Sulaman Kepala Peniti yang aku untuk di atas selendang. selendang ini buat seremoni Baralek, dijual dengan harga Rp800 ribu sampai Rp900 ribu. Tidak hanya selendang, aku pula untuk di atas kain kaftan serta baju tertutup, hasilnya dijual dengan harga satu juta lebih,” kata Eka.

Dikatakannya pula, tiap harinya beliau menyulam pada umumnya sepanjang 6 jam. 3 jam pagi hari serta 3 jam menjelang berbuka puasa.

Eka pula membuktikan hasil buatan sulamannya seraya menarangkan perbandingan corak serta metode dalan satu selendang.

” hasil sulaman datar dengan dataran kain. Jika yang ini sulam terawang, hasil sulaman berkerawang semacam menerawang. Serta ini sulam mencuat, hasil sulaman membuat komposisi di dataran kain cocok corak yang terbuat,” nyata Eka sambil memeperlihatkan.

Terpaut seluruh itu, Eka mengemukakan pendapatnya Mengenai menyulam. Ia merasakan khasiat dari membuat sulaman ialah aktivitas pengisi durasi senggang serta penghilang tekanan pikiran dari tradisi profesi tiap hari. Tetapi tidak cuma hanya itu saja, Eka berkata, beliau menyulam sebab kecintaannya kepada aktivitas itu.

 Baca Juga : Mengulas Jarum Mini 9-Inch dan Kesalahan Saat Merajut

” Bila tidak merasakan suka ataupun rasa menyayangi kepada buatan, belum pasti hasil bisa berakhir dengan bagus,” ucap Eka.

Baginya, Wanita Minang diwajibkan mempunyai keahlian menyulam. Serta itu dapat diajarkan semenjak kanak- kanak selaku bekal keahlian di era tiba.

” Walaupun digarap dengan metode yang tidak gampang, menyulam tidak jadi bobot untuk aku,” sebutnya.

Share via
Copy link
Powered by Social Snap