Seni, Sulaman

Sulaman Keringkam Khas Dari Sentuhan Tangan Laki – Laki

Sulaman Keringkam Khas Dari Sentuhan Tangan Laki – Laki – selendang keringkam menjadi aksesori wajib yang dikenakan wanita melayu saat menghadiri acara-acara publik dan acara khusus seperti pernikahan, pertunangan atau acara tertentu dalam kenegaraan.

Sulaman Keringkam Khas Dari Sentuhan Tangan Laki – Laki

 Baca Juga : Desa Van Lam Dengan Kerajinan Sulam-menyulam Yang Terkenal 

superziper – Siapa sangka salah satu keindahan sulaman itu adalah hasil sulam pria, Amirul Shazlie Yusuf, 33 tahun.

Pemilik merk Tampan Keringkam ini mengatakan, biasanya teknik pembuatan sulaman keringkam didominasi oleh wanita, namun bukan berarti pria tidak bisa melakukannya.

“Dimana ada kemauan disitu ada jalan. Saya aktif menyulam keringkam sejak tahun 2014,” ujarnya kepada Utusan Malaysia belum lama ini.

Amirul mengatakan dulu hanya ditata oleh bangsawan tapi sekarang siapa saja bisa menatanya.

“Tidak hanya di Sarawak, saat ini mudah ditemukan di Semenanjung. Desainer, peminat bahkan kolektor sudah tersebar di setiap negara bagian di Malaysia,” ujarnya.

Pemuda asal Kuching, Sarawak ini menyukai keringkam karena keseniannya sangat istimewa dan dekat di hati.

“Keluarga saya memiliki banyak selendang kusut. Beberapa yang berusia hampir 100 tahun masih ada di tabungan keluarga saya di Sarawak,” ujarnya.

Mahal tapi tahan lama

Amirul melakukan pekerjaan sulam paruh waktu karena dia masih memiliki pekerjaan tetap. Namun hasil karirnya tidak mengecewakan. Beliau merupakan salah satu pengrajin sulam keringkam yang terkenal di tanah air atas kualitas sulaman yang dihasilkannya.

“Saya sudah tertarik dengan selah keringkam sejak kecil. Saat itu saya heran kenapa harganya mahal padahal cara pemakaiannya mudah. Saat dewasa baru tahu betapa berharganya sehelai selayah keringkam,” ujarnya.

Berangkat dari ketertarikan, Amirul memutuskan untuk belajar membuat sulaman keringkam dengan para penyulam kawakan melalui workshop yang diselenggarakan oleh Kraftangan Sarawak.

Proses belajar tidak berhenti di situ. Kapanpun ada ruang dan waktu, Amirul akan berusaha mempelajari teknik menyulam dengan lebih baik.

“Coba dan gagal. Begitulah cara saya menguasai tekniknya. Hampir setahun kemudian, saya bisa menguasai keterampilan menyulam keringkam.

“Awalnya saya belajar menyulam karena ingin menjaga sulaman yang keringkam. Tidak ada niat untuk bisnis. Tetapi ketika orang melihat bahwa saya pandai, dan beberapa mulai memesan, saya tidak melihat ke belakang, ”katanya.

Setelah mendapat pesanan sehelai selayah keringkam senilai puluhan ribu ringgit, kata Amirul, harganya tergantung motifnya.

“Semakin tebal dan semarak motif sulamnya, semakin mahal harganya,” ujarnya.

Amirul yang berhati- hati dan sabar mengatakan bahwa dia tidak menggambar polanya, melainkan sulaman yang dibuat dengan teknik sulaman tusuk dan hitung benang kemudian disulam dengan emas atau perak keringkam.

Mengenai masa depan seni warisan bangsa, Amirul mengatakan sulaman keringkam memiliki potensi untuk berkembang jauh jika digarap dengan sepenuh hati.

“Sekarang bukan tidak mungkin belajar sulam keringkam. Pertanyaannya, apakah individu tersebut mau melakukannya atau tidak. Saya mengambil contoh dari diri saya sendiri. Saya dulu pernah mengikuti workshop belajar sulam keringkam. Sebagian besar dari mereka yang menghadiri lokakarya adalah perempuan. Tapi setelah workshop berakhir, hanya saya yang aktif sebagai penyulam,” kata Amirul.

Promosi di media sosial

Danny Mohamad Zulkifli, 41, menggunakan Instagram @dkeringkam untuk mempromosikan hasil sentuhan artistiknya pada aksesori wanita. Dikatakannya, metode tersebut merupakan salah satu metode yang paling efektif untuk meramaikan seni rupa.

“Kebanyakan penyulam keringkam sudah tua sehingga cukup sulit bagi mereka untuk mempromosikan sulaman mereka di media sosial. Alhasil saya menerima banyak pemesanan. Jika saya tidak mampu, saya akan berbagi mata pencaharian dengan penyulam lainnya, ”katanya.

Berbagi di media sosial juga menjadi perhatian Pemerintah Sarawak. Dengan perhatian ini, pemerintah Sarawak banyak membantu dalam mempromosikan, termasuk menyelenggarakan pameran. Bahkan, pemerintah negara bagian juga telah mendirikan pusat keterampilan yang mengajarkan seni sulaman keringkam agar kelestariannya dapat terus berlanjut.

Danny terlibat sebagai pembuat dan penyulam keringkam pada tahun 2016.

“Itu juga kebetulan. Awalnya saya mau pesan syal keringkam dari Amirul. Tapi Amirul meminta saya untuk belajar menyulam sendiri.

“Dia meletakkan bahan untuk disulam di depanku. Tak disangka dalam dua jam saya bisa mempelajari teknik menyulam keringkam. Saya tidak memesannya tetapi membuat selendang keringkam sendiri,” kenangnya.

Danny yang berprofesi sebagai guru mengatakan sulam layak dikomersialkan karena bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan.

Sulaman keringkam Danny banyak dipesan dan ditata oleh para pejabat tinggi dan kolektor di seluruh Malaysia. Selain syal dan selendang, Danny juga menciptakan inovasi baru dengan memproduksi sulam keringkam sebagai hiasan tas tangan.

 Baca Juga : 7 Produk Rajut Tangan Terpopuler

Seni bernilai tinggi

Menurut Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Fakultas Seni Rupa, Komputer dan Industri Kreatif, Universitas Pendidikan Sultan Idris, Perak, Dr. Norakmal Abdullah, kerajinan sulam keringkam ini memiliki keistimewaan tersendiri yang patut ditonjolkan.

Disamakan dengan seni dek hujan yang tak lekang oleh waktu, dek panas yang tak lekang oleh waktu, masa depan kerajinan sulam keringkam tidak akan tertelan oleh dek modernitas jika dikomersialkan secara serius.

Ia yang juga Dosen Senior Jurusan Seni Rupa dan Desain ini mengatakan, dalam mengangkat kerajinan sulam keringkam perlu dibentuk komunitas kerajinan agar ekosistem industri kerajinan tanah air selalu segar.

Share via
Copy link
Powered by Social Snap